LPM IAIN Ambon Workshop Penyusunan Borang APT V.3.0

Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon menggelar kegiatan Workshop Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi Versi 3.0 (APT V.3.0) IAIN Ambon Tahun 2019. Penyusunan Borang APT V.3.0 IAIN Ambon melibatkan seluruh unsur pimpinan di lingkup IAIN Ambon sebagai peserta. 

Kegiatan Penyusunan Borang APY V.3.0 IAIN Ambon yang menghadirkan Guru Besar Fakultas Sains dan Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prof. H. Zainal A. Hasibuan, PH.D., dan Ketua LPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Sururin, M.Ag, digelar di Ruang Senat Lt II Gedung Rektorat IAIN Ambon, Jumat (22/2/2019). Penyusunan Borang APT V.3.0 IAIN Ambon ini digelar hingga Sabtu, 23 Februari 2019.
Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, dalam sambutannya menyatakan, kedatangan para tamu dari luar Maluku ke IAIN Ambon dengan membawa ilmunya, merupakan berkah yang patut disyukuri. Kiranya, lewat para guru besar yang membagikan pengetahuan dan pengalamannya di IAIN Ambon, dapat membawa perubahan pola pikir, untuk membenahi dan meningkatkan mutu tata kelola kampus hijau berjuluk cerdas dan berbudi itu.
IAIN Ambon telah akreditasi sejak Tahun 2014 dengan predikat Nilai B. Sesuai peraturan BAN-PT, maka tepat di Tahun 2020 mendatang, IAIN Ambon harus melakukan reakreditasi. Untuk itulah, tekan Rektor, pada Tahun 2019 ini, telah ditetapkan sebagai tahun reakreditasi dan akreditasi bagi program studi yang belum melakukan akreditasi di BAN-PT. Dalam rencana reakreditasi itu, lanjut dia, IAIN Ambon telah menetapkan target nilai A atau paling kecil B gemuk. Sebab itu, semua usaha untuk meningkatan mutu akademik dan pelayanan tengah disiapkan dari sekarang. Persiapan ini, tentu selain untuk menyambut proses reakreditasi dan akreditasi, juga sekaligus dalam rangka menyambut usulan alih peningkatan dari institut menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon. Bila proses perbaikan mutu pelayanan mampu dibenahi dari sekarang secara baik, maka secara otomatis, target untuk menjemput alih status menjadi universitas, langsung terjawab. 

Sebagai kritik, Rektor menegaskan, sesungguhnya IAIN Ambon memiliki peluang untuk dimasukan dalam daftar proglenas menjadi Universitas Islam Negeri. Sebab, sampai saat ini, belum ada satupun PTKIN di wilayah Indonesia Timur, yang sudah naik peringkat menjadi universitas. Dari aspek keberimbangan antara timur dengan barat Indonesia, maka ada disparitas karena UIN hanya berada di wilayah barat dan tengah. Sementara di bagian timur, sampai saat ini belum ada satupun PTKIN yang ditingkat menjadi universitas. Sebab itu, perlu ada kerja keras sehingga target dan cita-cita untuk menaikan status ke level universitas dapat segera terealisasi, paling lambat di Tahun 2020, bertepatan dengan usulan reakreditasi institut tersebut.
Menurut Rektor, apabila IAIN Ambon pada reakreditasi Tahun 2020 nanti mampu mendapatkan nilai A, maka secara otomatis akan memuluskan usulan alih status ke universitas, sebagaimana yang telah diajukan kepada Kementerian Agama RI di Jakarta. Semua hal harus dibenahi dari sekarang. Khususnya di bidang akademik, tugas dari LPM sebagai lembaga mutu, harus terus dipacu, agar prioritas perubahan dan perbaikan mutu di IAIN Ambon terus tercapai. "Ada hal-hal yang strategis kenapa akreditasi ini menjadi penting sehingga kita meningkatkannya dari B menjadi A. Ini salah satunya adalah dalam rangka proses peningkatan alih status menjadi universitas. Karena selama ini, kelihatannya ada disparitas antara Timur dengan Barat. Karena itu proses akreditasi ini menjadi kerangka atau format untuk merubah IAIN Ambon menjadi UIN Ambon. Meskipun kita sadari, masih banyak kendala-kendala yang harus dibenahi, terutama di bidang pelayanan berbasis jaringan teknologi dan informasi." Memang, akui Rektor, perubahan regulasi tentu membawa pengaruh juga terhadap proses penataan mutu di perguruan tinggi, terutama untuk mencapai nilai akreditasi yang maksimal. Misalnya, perubahan pada nilai standar yang menjadi kebijakan BAN-PT, yang sedianya hanya tujuh, kini dinaikan menjadi sembilan. "Sebab itu, kita terus berusaha untuk menyesuaikan dengan perubahan perubahan tersebut. Saya berharap lewat workshop ini, apa yang menjadi target kita dapat menyelesaikannya. Misalnya, masalah pembenahan sistem PTIPD dengan mengarahkan seluruh tenaga IT untuk membenahi data kita. Saat ini, kita selain fokus membenahi mutu, juga lebih fokus pada pembnahan fisik, setelah melewati proses pembenahan fisik ini, maka selanjutnya kita akan fokus membenahi mutu, baik mutu dalam bidang pengajaran maupun mutu lulusan," tekan Rektor, sembari menegaskan, seluruh Kabag, Kasubag dan pegawai harus dapat melaksanakan peran dan tugasnya, untuk menjawab capaian mutu yang kini menjadi target bersama-sama di kampus multukulturalisme tersebut. "Saya berharap, kita tangani semuanya dari sekarang, sehingga tepat pada Tahun 2010, kita tidak terlambat untuk menyesuaikan proses akreditasi. Mindset kita saat ini adalah mainset budaya mutu dalam rangka mencapai proses akreditasi dengan target nilai A," tutup Rektor.

Menyikapi target IAIN Ambon untuk ditingkatkan menjadi universitas, menurutGuru Besar Fakultas Sains dan Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prof. H. Zainal A. Hasibuan, PH.D., bahwa alih status menjadi universitas adalah jembatan bagi seluruh civitas dalam bekerja saat ini. Secara umum, yang harus dikerjakan oleh IAIN Ambon, yakni memperbaiki mutunya. Ketika mutunya sudah baik, maka secara otomatis, akan memudahkan rencana menjadi universitas tersebut. Mutu yang dimaksud Prof Zainal, mutu pelayanan akademik, mutu pengajaran, hingga mutu lulusan. Ketika mutu tersebut sudah dibenahi di tingkat fakultas hingga program studi, maka saatnya usulan alih status sangat mudah, termasuk untuk memuluskan target nilai akreditasi A. "Alih status adalah jembatannya. Kita melakukan percepatan peningkatan mutu pendidikan. Dalam alih status IAIN ke UIN, kita harapkan pada waktu yang bersamaan semua Prodi yang ada di IAIN maupun Prodi yang ditambahkan dalam statuta yang baru, ibarat satu gerbong kereta api dan diharapkan semua bisa meningkat mutunya dalam waktu yang relatif singkat."
Untuk bisa melakukan kecepatan itu, lanjut dia, perlu adanya intervensi sistem terutama dalam bidang sistem teknologi, informasi dan komunikasi. Misalnya, pembelajaran learning management system atau yang disebut dengan e-learning. "Dengan adanya e-learning, proses belajar-mengajar terdokumentasi dengan baik terdigitalisasi dengan baik. Keuntungannya di samping kita dapat melihat sejauh mana materi-materi yang diajarkan atau disampaikan kepada mahasiswa, juga secara bersamaan dapat dibuatkan program pengembangan dosen." Hal penting lainnya menurut dia, bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di samping yang didapatkan tersebut, juga dapat ditularkan kepada mahasiswa. "Kita membudayakan kepada mahasiswa bahwa teknologi komunikasi dan informasi ini, banyak yang memberikan manfaat, daripada mudharatnya. Kita menggunakan teknologi tidak hanya untuk whatsapp atau update-update status, tapi menjadi bagian penting untuk meningkatkan pembelajaran," tutup dia. (***)

Dilihat: 102